Franchising Luar Negri yang Ada Di
Indonesia
Franchise atau waralaba adalah suatu
bentuk kerja sama dimana pemberi waralaba (franchisor) member ijin kepada
penerima waralaba (franchisee) untuk menggunakan hak intelektualnya, seperti
nama, merek dagang produk dan jasa, dan sistem operasi usahanya. Sebagai timbal
baliknya, penerima waralaba membayar suatu jumlah yang seperti franchise dan
royalty fee atau lainnya. (PP No 16 tahun 1997 tgl 16 Juni 1997).
Berikut pengertian dari beberapa
istilah yang kerap digunakan dalam dunia waralaba:
• Franchisor
(Pemberi Waralaba): badan usaha atau perorangan yang memberikan hak kepada
pihak lain (franchisee) untuk memanfaatkan segala ciri khas usaha dan segala
kekayaan intelektual seperti nama, merek dagang, dan sistem usaha yang
dimilikinya.
• Franchisee
(Penerima Waralaba): badan usaha atau perorangan yang diberikan atau menerima
hak untuk memanfaatkan dan menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau ciri
khas usaha yang dimiliki oleh franchisor.
• Master
Franchisee: franchisee yang diberi hak oleh franchisor untuk memberikan hak lanjutan kepada
franchisee lainnya pada suatu area tertentu, dan atau membuka sendiri unit-unit
franchisee lanjutan tersebut pada daerah tertentu.
• Franchise
Fee: kontribusi fee dari franchisee kepada franchisor sebagi imbalan atas
pemberian hak pemanfaatan dan penggunaan hak intelektual yang dimiliki oleh
franchisor dalam kurun waktu tertentu. Kerap franchise fee ini disebut one-time
fee karena hanya dibayarkan untuk satu kali bentuk hak yang diterima.
• Royalty
Fee: kontribusi fee dari operasional usaha franchisee yang dibayarkan kepada franchisor
secara periodik, biasanya secara bulanan. Lazimnya, royalti fee berupa
persentase tertentu dari besarnya omzet penjualan franchisee.
Salah satu contoh franchising asing di
Indonesia adalah Nike inc.
Nike, Inc. adalah salah satu
perusahaan sepatu, pakaian dan alat-alat olahraga Amerika Serikat yang
merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Mereka terkenal karena mensponsori
beberapa olahragawan terkenal di dunia seperti Tiger Woods, dan Michael Jordan.
Selain itu mereka juga memiliki perjanjian dengan berbagai tim sepak bola dunia
seperti Manchester United, F.C. Barcelona, Arsenal, Juventus, Inter Milan, VfL Wolfsburg, Hertha BSC
Berlin, Borussia Dortmund, PSV Eindhoven, Valencia. Atlético de Madrid, Glasgow
Celtic, FC Porto, Paris Saint-Germain, Boca Juniors, dan Corinthians
Didirikan pada tahun 1972
Pendiri William J. "Bill" Bowerman Philip H. Knight
Didirikan pada tahun 1972
Pendiri William J. "Bill" Bowerman Philip H. Knight
Kantor pusat Beaverton, Oregon,
Amerika Serikat
Tokoh penting Philip H. Knight (Ketua)
Mark Parker (CEO) & (Presiden)
Produk nike Sepatu Pakaian Perlengkapan
olahraga Aksesoris
Pendapatan ▲ AS$ 16,325 miliar (2007)
Laba usaha ▲ AS$ 2,199 miliar (2007)
Laba bersih ▲ AS$ 1,491 miliar (2007)
Jumlah asset ▲ AS$ 10,688 miliar (2007)
Jumlah ekuitas ▲ AS$ 7,025 miliar (2007)
Karyawan 30.200 (2008)
Slogan Just Do It! Dgn Situs web Nike.com
Visi : Menjual barang-barang dari Nike Store ke pelanggan di Indonesia
Misi : Dengan Cara melayani pembeli dengan Ramah dan sopan agar bisnis ini dapat berjalan dengan baik
Laba usaha ▲ AS$ 2,199 miliar (2007)
Laba bersih ▲ AS$ 1,491 miliar (2007)
Jumlah asset ▲ AS$ 10,688 miliar (2007)
Jumlah ekuitas ▲ AS$ 7,025 miliar (2007)
Karyawan 30.200 (2008)
Slogan Just Do It! Dgn Situs web Nike.com
Visi : Menjual barang-barang dari Nike Store ke pelanggan di Indonesia
Misi : Dengan Cara melayani pembeli dengan Ramah dan sopan agar bisnis ini dapat berjalan dengan baik
Nike di Indonesia
Nike telah beroperasi di Indonesia
sejak 1988 dan hampir sepertiga dari sepatu yang ada sekarang merupakan produk
dari sana. Dalam sebuah wawancara pers di November 1994, koordinator perusahaan
Nike di Indonesia, Tony Band, mengatakan perusahaan yang digunakan di Indonesia
berjumlah 11 kontraktor. Di antaranya merupakan bekas-bekas basis perusahaan
asosiasi Nike di Korea Selatan dan Taiwan -yang juga pada saat yang sama
menghasilkan untuk merek lain seperti Reebok, Adidas dan Puma.
Hubungan antara Nike dan kontraktor di Indonesia cukup dekat. Setiap personel Nike di setiap pabrik di Indonesia memeriksa kualitas dan pengerjaan yang memenuhi persyaratan ketat Nike.
Sebagian besar pabrik yang memproduksi untuk Nike berlokasi di daerah yang baru dikembangkan untuk industri ringan di Tangerang dan Serang, sebelah barat Jakarta. Pada pabrik yang dimiliki Korea (dan beberapa yang dimiliki Indonesia juga) manajemen puncaknya dipegang oleh orang Korea. manajer tingkat menengah dan supervisor juga dapat berasal dari Korea atau Indonesia. Tapi para pekerja produksi semua berasal dari Indonesia, terutama wanita muda dalam kelompok usia 16-22, biasanya pekerja tersebut berasal dari pulau Jawa
Hubungan antara Nike dan kontraktor di Indonesia cukup dekat. Setiap personel Nike di setiap pabrik di Indonesia memeriksa kualitas dan pengerjaan yang memenuhi persyaratan ketat Nike.
Sebagian besar pabrik yang memproduksi untuk Nike berlokasi di daerah yang baru dikembangkan untuk industri ringan di Tangerang dan Serang, sebelah barat Jakarta. Pada pabrik yang dimiliki Korea (dan beberapa yang dimiliki Indonesia juga) manajemen puncaknya dipegang oleh orang Korea. manajer tingkat menengah dan supervisor juga dapat berasal dari Korea atau Indonesia. Tapi para pekerja produksi semua berasal dari Indonesia, terutama wanita muda dalam kelompok usia 16-22, biasanya pekerja tersebut berasal dari pulau Jawa
Ada beberapa perusahaan di Indonesia
yang bekerjasama dengan NIKE Inc
antara lain PT Hardaya Aneka Shoes Industri, PT Karet Murni Kencana, PT Astra Graphia dan masih banyak yang lainnya
Produksi yang dibuat selama ini berdasarkan pesanan dari kantor pusat Nike di Amerika Sepatu yang diproduksi oleh PT. HASI adalah sepatu olah raga yang terbagi atas dua jenis yaitu sepatu olah raga kategori atletik dan soccer. Untuk kategori sepatu atletik, terbagi atas tiga jenis yaitu running, tenis, dan football. Sepatu diproduksi berdasarkan pesanan (job order) dari kantor pusat Nike di Amerika Serikat. Pemesanan datang dalam waktu yang tidak terjadwal namun akhir-akhir ini pemesanan sepatu bahkan datang setiap dua minggu, sedangkan PT. HASI harus menyerahkan pesanan tersebut dalam waktu dua sampai tiga bulan setelah job order diterima. Dalam perkembangannya, persaingan dalam industri sepatu olah raga baik di tingkat dunia maupun pada tingkat nasional sangat kompetitif. Untuk selalu meningkatkan daya saing serta agar tetap terjaga kerja sama yang baik dengan pihak pemegang merek yang selama ini telah terjalin, maka PT tersebut dituntut untuk senantiasa meningkatkan mutu produk serta meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses produksinya. Tujuannya adalah agar tingkat biaya produksi yang terjadi dapat lebih kecil. Sebagai produsen sepatu berkualitas internasional, sudah tentu kualitas menjadi perhatian utama perusahaan agar setiap produk yang dihasilkan dapat memuaskan pemesan khususnya dan konsumen pada umumnya. Di samping tuntutan kualitas yang prima, Pt tersebut dituntut pula untuk dapat memenuhi pesanan dari NIKE Inc. tepat waktu dan tepat jumlah. Kendala yang dihadapi manajemen adalah masih terdapatnya produk cacat, yang dimaksud produk cacat disini adalah produk yang tidak sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan. Adanya produk cacat tersebut merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan, sehingga akan mengurangi laba perusahaan.
antara lain PT Hardaya Aneka Shoes Industri, PT Karet Murni Kencana, PT Astra Graphia dan masih banyak yang lainnya
Produksi yang dibuat selama ini berdasarkan pesanan dari kantor pusat Nike di Amerika Sepatu yang diproduksi oleh PT. HASI adalah sepatu olah raga yang terbagi atas dua jenis yaitu sepatu olah raga kategori atletik dan soccer. Untuk kategori sepatu atletik, terbagi atas tiga jenis yaitu running, tenis, dan football. Sepatu diproduksi berdasarkan pesanan (job order) dari kantor pusat Nike di Amerika Serikat. Pemesanan datang dalam waktu yang tidak terjadwal namun akhir-akhir ini pemesanan sepatu bahkan datang setiap dua minggu, sedangkan PT. HASI harus menyerahkan pesanan tersebut dalam waktu dua sampai tiga bulan setelah job order diterima. Dalam perkembangannya, persaingan dalam industri sepatu olah raga baik di tingkat dunia maupun pada tingkat nasional sangat kompetitif. Untuk selalu meningkatkan daya saing serta agar tetap terjaga kerja sama yang baik dengan pihak pemegang merek yang selama ini telah terjalin, maka PT tersebut dituntut untuk senantiasa meningkatkan mutu produk serta meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses produksinya. Tujuannya adalah agar tingkat biaya produksi yang terjadi dapat lebih kecil. Sebagai produsen sepatu berkualitas internasional, sudah tentu kualitas menjadi perhatian utama perusahaan agar setiap produk yang dihasilkan dapat memuaskan pemesan khususnya dan konsumen pada umumnya. Di samping tuntutan kualitas yang prima, Pt tersebut dituntut pula untuk dapat memenuhi pesanan dari NIKE Inc. tepat waktu dan tepat jumlah. Kendala yang dihadapi manajemen adalah masih terdapatnya produk cacat, yang dimaksud produk cacat disini adalah produk yang tidak sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan. Adanya produk cacat tersebut merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan, sehingga akan mengurangi laba perusahaan.
Proses Produksi
Sepatu
Dalam
konstruksi sepatu, beberapa manufacture menggunakan istilah-istilah yang hampir
sama yang menunjukkan elemen-elemen sepatu.
Umumnya konstruksi sepatu terbagi menjadi 2 bagian
utama, yaitu :
Upper
Upper sepatu adalah bagian sepatu yang terdapat di bagian sisi atas, mulai
dari ujung depan sepatu, sisi kanan dan kiri, bagian lidah (tongue) sampai
dengan bagian belakang. Karakteristik dari upper biasanya berbahan dasar kain
sintetic atau kulit (leather) yang telah dirakit dengan jahitan (stitching
process).
Bottom
Bagian bottom dari sepatu adalah bagian alas atau bagian bawah dari sepatu.
Biasanya orang menyebut bagian sole. Bottom terdiri dari insole, midsole dan
outsole. Dan ada juga yang menggunakanbahan Pu-Puck (Polyurethane).
Keterangan :
1. Upper Components Cutting
Cutting process adalah proses pemotongan bahan baku sebelum dibentuk
menjadi upper sepatu. Bahan baku yang berupa kain atau pun kulit (leather)
dipotong membentuk pola-pola ( Cardsboard patterns ) yang telah ditentukan sebelumnya. Peralatan yang
diperlukan dalam proses ini menggunakan mesin potong (cutting machine) dan alat
potong yang disebut dengan cutting dies yang bentuk dan ukurannya telah dibuat
sesuai dengan pola-pola potongan yang akan dikerjakan.
2. Stitching / Sewing
Pada proses ini
pola-pola bahan baku yang telah dipotong di cutting process kemudian
dijahit yang kemudian dibentuk menjadi upper sepatu. Dalam proses penjahitan
ini sangat banyak membutuhkan waktu dalam pengerjaannya. Hal ini
dikarenakan tinginya tingkat kesulitan dalam menjahit dan juga butuh ketelitian
yang sangat tinggi. Potonganpola dijahit satu persatu sehingga membentuk upper
sepatu yang selanjutnya disatukan di proses perakitan.
3. Outsole
Production
Outsole, merupakan Bagian terbawah
dari sepatu yang contact dengan tanah. Karakteristik outsole yang baik antara
lain: Cengkeraman (grip), daya tahan, dan tahan air. Untuk sebuah sepatu, bahan
yang digunakan pada outsole biasanya merupakan gabungan dari beberapa bahan
untuk menyesuaikan dengan model,warna dan fungsi yang diinginkan, antara lain
berbasis plastik, karet/rubber, sponge. masing masing jenis bahan tersebut juga
bervariasi. misalnya untuk plastic ada jenis TPR, TPU dll.
Proses pembuatan outsole terdapat 2 jenis, yaitu molding dan injection.
4. Insole
production
Insole, merupakan bagian dalam sepatu, tepatnya berada di bawah
kaki. Bahan yang dipakai untuk insole sangat menentukan kenyamanan saat kita
mengenakan sepatu.
Berikut proses pembuatan
insole.
5. Stock
Fitting
Beberapa jenis
outsole bisa langsung digunakan pada proses Assembling, namun ada juga beberapa
jenis bottom yang harus melalui proses stock fitting. Proses ini adalah merupakan proses kerja yang
menggabungkan bagian-bagian dari bottom sepatu, yaitu antara midsole dan outsole
sampai terbentuk menjadi bottom sepatu. Midsole yang berbahan dasar phylon akan
digabungkan dengan outsole yang berbahan dasar karet (rubbersole) dengan cara
mengelem/cementing.
6. Assembly
Pada bagian
inilah perakitan sepatu dikerjakan. Bagian-bagian sepatu yang masih berupa
upper dan bottom digabungkan hingga menjadi bentuk sepatu. Bagian upper yang
diproduksi dari divisi stitching process sebelumnya dan bagian bottom yang
diproduksi di divisi stockfit dirakit dalam proses ini sampai membentuk
sepasang sepatu. Hal-hal penting dalam proses assembling bisa dilihat dalam
detail berikut.
a. Laste
Saat memasuki
proses assembling Upper dan Bottom sudah berupa pasangan atau “set”, dengan
size yang sudah ditentukan. Untuk membentuk sepatu agar mengikuti kontur kaki
digunakan laste. Setiap Merek memiliki dimensi Laste yang berbeda-beda
meski dengan size yang sama. Sepatu untuk kaki orang asia tentunya memiliki laste
yang berbeda dengan jenis kaki orang Eropa.
b. Penyatuan Upper dan Midsole
Beberapa
sepatu yang menggunakan Phylon, antara Upper dan phylon disatukan dengan
menggunakan mesin Toelast – Healast.
Toelasting
machine menyatukan dengan cara pengeleman dan Press dibagian ujung / Toe.
Sedang Healast machine menyatukan bagian belakang/heal dengan cara yang sama.
Adapula
sepatu jenis stroble, jenis ini tidak menggunakan mesin toelast-healast
karena Upper dan midsole disatukan dengan cara di jahit.
Setelah
proses ini, Upper yang didalamnya sudah terdapat laste dikenakan proses
pemanasan / heating agar bahan upper ( leather/synthetic ) tercetak dengan baik
sehingga mengikuti kontur permukaan laste.
c. Treatment Upper - Bottom
Sebelum
disatukan, permukaan kontak ( contact surface ) Upper dan Bottom harus di
Treatment terlebih dahulu. Pada dasarnya treatment ini bertujuan untuk
membersihkan contact surface, membuka pori-pori permukaan bottom dengan
penyinaran ultra violet (UV), cementing, dan Heating.
d. Press
Menyatukan bottom
dan upper dengan menggunakan mesin press.
e.
Pendinginan
Secara
teoritis material upper baik dari Synthetic maupun leather/kulit
ditreament ( melalui proses heating ) untuk mengikuti kontur permukaan laste.
Setelah proses penyatuan dengan bottom di mesin press. Laste tidak boleh
langsung dilepas. Proses pendinginan diperlukan untuk menghentikan perubahan
bentuk material. Proses ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu pendinginan
perlahan, sepatu dilewatkan dalam conveyor gantung yang panjang dan didinginkan
dengan angin dengan suhu ruang normal. Cara kedua yaitu pendinginan cepat,
sepatu diletakkan diatas conveyor yang melewati lorong dengan suhu chiller.
f. Finishing
Proses ini merupakan akhir dari semua proses produksi yang dikerjakan. Sepatu hasil
produksi dan telah melewati
pemeriksaan quality kemudian akan di-packing ke dalam dus karton sepatu yang
kemudian disimpan di gudang final product.
Keseluruhan proses
Assembling, bisa dilihat dalam vidio berikut, saya menggunakan proses
assembling Adidas. Beberapa tahapan tampak tidak sama dengan yang saya
sampaikan, ini erat kaitannya dengan aplikasi teknologi. industri sepatu tidak
selalu identik dengan midle teknologi, namun penggunaan high tech merupakan hal
yang mungkin diterapkan untuk meningkatkan efisiensi, quality, dan
produktivitas.
Keuntungan dari kerjasama di atas sangat
menjanjikan bagi kedua belah pihak, sehingga franchising semakin lama semakin
berkembang..
Pengetahuan Seputar Logo Branded Shoes
Nike, Nama
“Nike” Terinspirasi oleh Dewi mitologi Yunani Kuno yaitu Nike.
Logo yang berbentuk centang didesain oleh Carilyn Davidson, seorang mahasiswi
desain grafis di prtland State University pada tahun 1971. Logo Nike, adalah
representasi dari sayap dewi kemenangan Yunani, disebut Swoosh. Sayap
dewi Yunani suci dikenal untuk membawa motivasi dan kekuatan berani untuk
prajurit. Logo berbentuk sayap awalnya dianggap sebagai "strip" tapi
kemudian diganti dengan sebutan "Swoosh"
|
Kesimpulannya:
Nike Inc. adalah salah satu perusahaan asing besar yang berkejasama dengan
perusahan Indonesia sebagai Franchising.. dan kegiatan tersebut menguntungkan
ke dua belah pihak, serta konsumen, sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan
biaya untuk produksi, distibusi dan jual beli
Nama: Ready Rachmat Putra 27213349
Nama: Venty Lasiandita 29213105
Nama: Handhika Farid 23213877
Nama: Venty Lasiandita 29213105
Nama: Handhika Farid 23213877
Dampaknya usaha Franchise Asing di
Indonesia
Usaha waralaba asing di Indonesia pasti memberikan wawasan kepada
pengusaha di Indonesia mengenai business model yang berwacana gobal. Edukasi
yang sangat baik bagi wawasan bisnis lokal kita.
Franchise asing yang sistem bisnisnya sudah lebih siap, akan memberikan tingkat kesuksesan yang lebih tinggi dan dampaknya akan memberikan perputaran penjualan (tentunya ekonomi) yang lebih baik buat perputaran ekonomi di Indonesia.
Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja juga akan jauh lebih maju.
Dampak pembelajaran terhadap teknis industri juga sangat baik untuk diteruskan pada kegiatan alih teknologi.
Dampak terhadap perdagangan kepada para suplier lokal akan lebih memberikan gairah lagi, yang nantinya membuat para suplier menjadi suplier berkelas global internasional. Bayangkan reputasi suplier lokal yang mempunyai track record sukses bekerjasama dengan merek internasional.
Maraknya franchise asing atau usaha multinational di Indonesia memberikan kesan bahwa negara Indonesia merupakan bagian dari negara maju. Hal ini akan meninggalkan kesan bahwa Indonesia adalah negara terkebelakang. Dan semakin banyak merek asing di Indonesia (ingat!: bahwa pemilik bisnisnya disini bukan orang asing, tetapi tetap orang lokal), akan memberikan kepercayaan bagi para investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia. Dampaknya adalah kemajuan ekonomi
Franchise asing yang sistem bisnisnya sudah lebih siap, akan memberikan tingkat kesuksesan yang lebih tinggi dan dampaknya akan memberikan perputaran penjualan (tentunya ekonomi) yang lebih baik buat perputaran ekonomi di Indonesia.
Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja juga akan jauh lebih maju.
Dampak pembelajaran terhadap teknis industri juga sangat baik untuk diteruskan pada kegiatan alih teknologi.
Dampak terhadap perdagangan kepada para suplier lokal akan lebih memberikan gairah lagi, yang nantinya membuat para suplier menjadi suplier berkelas global internasional. Bayangkan reputasi suplier lokal yang mempunyai track record sukses bekerjasama dengan merek internasional.
Maraknya franchise asing atau usaha multinational di Indonesia memberikan kesan bahwa negara Indonesia merupakan bagian dari negara maju. Hal ini akan meninggalkan kesan bahwa Indonesia adalah negara terkebelakang. Dan semakin banyak merek asing di Indonesia (ingat!: bahwa pemilik bisnisnya disini bukan orang asing, tetapi tetap orang lokal), akan memberikan kepercayaan bagi para investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia. Dampaknya adalah kemajuan ekonomi
Manfaat bagi franchisor:
• pengembangan
usaha dengan biaya yang relatif murah
• potensi
passive income yang cukup besar
• efek
bola salju dalam hal brand awareness dan brand equity usaha anda
• terhindar
dari undang-undang anti monopoli.
Manfaat bagi franchisee:
• memperkecil
resiko kegagalan usaha
• menghemat
waktu, tenaga dan dana untuk proses trial & error Referensi:
REFERENSI
http://www.mb.ipb.ac.id/
http://id.wikipedia.org/wiki/Nike,_Inc.
http://www.the-marketeers.com/archives/terobosan-nike-yang-akan-terlihat-sebentar-lagi.html#.Uotq8jes2hk
http://hostforplus.blogspot.com/2011/05/manfaat-franchise-waralaba.html http://www.konsultanwaralaba.com/waralaba-asing-bisnis-waralaba-indonesia/
http://id.wikipedia.org/wiki/Nike,_Inc.
http://www.the-marketeers.com/archives/terobosan-nike-yang-akan-terlihat-sebentar-lagi.html#.Uotq8jes2hk
http://hostforplus.blogspot.com/2011/05/manfaat-franchise-waralaba.html http://www.konsultanwaralaba.com/waralaba-asing-bisnis-waralaba-indonesia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar